Akankah Sejarah Gelembung Ekonomi Terulang?

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia yang melakukan operasionalisasi kehidupan pada abad 21 selalu berupaya menuntut hidupnya agar “serba instan”. Hal ini sangat didukung oleh adanya teknologi yang memegang kemudi kehidupan pada saat ini. Seperti yang kita semua rasakan, kini segala hal banyak yang diubah dalam bentuk online atau memanfaatkan jaringan internet dan teknologi informasi.

Sadar tidak sadar, terbukti bahwa perkembangan jaringan internet semakin melahirkan para oportunis yang berorientasi pada kekayaan atau keuangan. Coba saja dihitung berapa jumlah perkembangan bisnis atau usaha akibat adanya teknologi informasi? Sangat berlimpah bukan? Bahkan, kekayaan pun dapat diperoleh melalui permainan online dan transaksi digital.

Semakin banyaknya peselancar transaksi online, maka dibuatlah suatu inisiasi alat pembayaran baru untuk mempermudah mereka dalam melakukan transaksi keuangan. Alat ini saya sebut sebagai “keluarga koin” atau bahasa formalnya cryptocurrency.

Cryptocurrency adalah mata uang digital yang menggunakan kriptografi sebagai keamanan yang membuatnya tidak dapat untuk dipalsukan. Jenisnya yang digital membuat uang baru ini tidaklah kasat indera sebagaimana uang kartal yang kita punya. Namun, segala yang disebut uang memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai alat tukar dan bertransaksi (bagi beberapa yang telah melegalkan).

Bedanya, nilai atau harga cryptocurrency ditentukan oleh kekuatan buy and sellyang dilakukan oleh para penggunanya. Menurut data sudah lebih dari 500 cryptocurrency diciptakan dengan konsep dan nilai yang berbeda-beda. Salah satu anggota keluarga koin yang paling terkenal dan diminati di dunia adalah Bitcoin. Dikutip dari bitcoin.co.id, selain Bitcoin terdapat 6 cryptocurrency lain yang dapat diperdagangkan, yaitu: Ripple, Litecoin, Nubits, Paycoin, Dogecoin, dan Darkcoin (Dashcoin).

Seiring berjalannya waktu, siapa sangka, Bitcoin yang diluncurkan oleh Satoshi Nakamoto pada 3 Januari 2009 silam kini telah memiliki nilai tukar hingga sebesar Rp212.379.000. Padahal, pada awal diluncurkan, Bitcoin tersebut hanya memiliki nilai sebesar Rp1.300 saja. Hanya dalam jangka waktu 8 tahun nilai tukar cryptocurrency ini telah meningkat 163.367 kali, siapa yang tidak tergiur?

Tidak heran jika saat ini banyak para spekulator dan investor berbondong melakukan investasi pada Bitcoin. Banyak faktor yang menyebabkan nilai Bitcoin terus melonjak. Penyebab yang paling utama adalah terus bertambahnya peminat Bitcoin. Untuk mendapatkan Bitcoin, para pengguna harus melakukan penambangan secara digital, dan setelah 10 menit atau lebih barulah Bitcoin didistribusikan kepada mereka.

Namun, jika berkaca pada peristiwa lampau yang sempat merugikan banyak pihak, apakah Bitcoin ini masih diminati? Sebagai bahan renungan, waspadailah bahaya di balik pertumbuhan yang terlalu tinggi dan cepat pada Bitcoin.

Ambil contoh peristiwa Tulip Mania yang memuncak pada tahun 1637 silam. Dimulai pada 1611, bunga tulip yang tidak berharga sama sekali menjadi simbol status sosial dan kebanggaan orang kaya. Karena status sosial seseorang tergambar dengan kepemilikan tulip, maka orang-orang berbondong untuk membelinya.

Banyaknya permintaan terhadap bunga tulip menjadikan harganya semakin naik dan terus naik karena keterbatasan jumlah yang hanya ada di negara Belanda. Pertumbuhan harga yang cukup menggiurkan membuat bunga tulip dijadikan sebagai ladang investasi. Adapun maksud investasi di sini bukanlah dengan menanam sendiri bibit bunga tulip, melainkan dengan menggunakan perantara “kertas investasi” yang berisi kontrak antara investor dan petani tulip.

Sistem investasi yang diterapkan pada tulip ini adalah dengan melakukan penjualan harga bertingkat. Investor pertama menjual kertas investasi tulip dengan harga sekian kepada investor kedua, lalu investor kedua menjualnya kepada investor ketiga dengan harga yang lebih tinggi, investor ketiga pun menjualnya kepada investor keempat dengan harga yang lebih tinggi lagi, dan begitu seterusnya. Hingga pada akhirnya, harga tulip sudah mencapai puncaknya kala itu dan dikuasai oleh para pemilik modal besar.

Melihat begitu cemerlangnya investasi pada bunga tulip, masyarakat kelas kecil dan menengah pun sangat tergiur dan tertarik. Dengan harga yang sudah mencapai ribuan kali lipat, mereka terpaksa meminjam uang ke bank bahkan hingga menjual barang-barang yang mereka miliki karena hasrat ‘ingin cepat kaya’.

Namun, pucuk di cinta ulam pun tiba. Semakin membeludaknya permintaan dan harga bunga tulip tersebut justru membuat orang-orang semakin tertarik untuk menanamnya sehingga jumlah bunga tulip pun tak lagi terbatas. Di sini pun hukum pasar kembali berlaku, banyaknya persediaan tulip mengakibatkan harganya turun hingga ke samudera. Kertas investasi yang tadi dibeli oleh para investor dari kelas kecil dan menengah pada harga jutaan rupiah, kini hanya bernilai seharga kertas biasa saja. Rugi kan?

Inilah sejarah pertama kalinya peristiwa ‘economics bubble’ atau gelembung ekonomi yang menyebabkan orang jatuh miskin, bank kolaps, dan perekonomian negara pun hancur. Orang-orang begitu mudahnya dibutakan oleh hasrat untuk kaya secara instan dan cepat.

Sebenarnya yang menjadi pemenang dalam penipuan ini adalah para investor level atas atau yang pertama-tama melakukan investasi. Mereka memahami betul keserakahan manusia yang ingin cepat kaya dengan memainkan psikologi ‘panic buying’. Saya menyebut ini sebagai penipuan pembelian yang mengundang hasrat orang lain untuk turut melakukan pembelian.

Adanya kesamaan pola pada tulip dan Bitcoin mengindikasikan adanya kemungkinan hasil akhir cerita yang sama pula. Apalagi pada investasi Bitcoin tidak adanya lembaga atau negara khusus yang menjadi pengurus dan pengawasnya, lebih berisiko bukan? Tapi kembali lagi kepada penilaian dan pandangan diri masing-masing. Jangan sampai sejarah tulip mania terulang kembali dengan wajah baru bernama Bitcoin Mania.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *