Litecoin Saingan Utama Bitcoin hingga Pajak E-Commerce RI Disoroti WTO

Pemerintah provinsi didorong oleh Bank Indonesia (BI) untuk mengembangkan sektor baru. Hal ini dilakukan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata dan industri kreatif digital dinilai BI menjadi sektor yang bisa dikembangkan.

Litecoin tahun ini hampir mencapai 5.800% dan berhasil mengalahkan kenaikan Bitcoin yang merupakan saingannya. Litecoin ad

Usulan Indonesia mengenai penetapan bea masuk dan pajak atas barang dan jasa yang ditransaksikan dan ditransmisikan secara elektronik (e-commerce) akan dipertimbangkan oleh World Trade Organization (WTO). Hal ini dotegaskan oleh Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita.

Ketiga berita tersebut menjadi berita yang banyak menarik minat para pembaca di kanal Okezone Finance. Untuk itu, berita-berita tersebut kembali disajikan secara lengkap.

BI: Ekonomi Jakarta Butuh Penggerak Baru

Bank Indonesia (BI) perwakilan DKI Jakarta mendorong pemerintah provinsi mengembangkan sektor baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. BI menilai, sektor yang bisa dikembangkan sebagai penggerak ekonomi antara lain pariwisata dan industri kreatif digital.

“Sebenarnya sektor yang ada saat ini tidak kenapa-kenapa, tapi kita butuh sektor baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Doni P Joewono di Solo.

Sektor pariwisata disebut menjanjikan karena DKI Jakarta merupakan lima besar kota di dunia dengan pertumbuhan tercepat. Destinasi wisata di Jakarta yang dapat dijual di antaranya Kepulauan Seribu, Kota Tua, dan musuem lainnya.

Sudah Naik 5.800%, Litecoin Jadi Saingan Utama Bitcoin

Litecoin adalah nilai kripto terbesar keempat di dunia yang telah mencapai rekor tertinggi. Litecoin telah hampir 5.800% tahun ini dan mengalahkan kenaikan bitcoin saingannya.

Situs industri Coinmarketcap.com, yang mengukur rata-rata volume dari semua harga yang dilaporkan pada bursa, mencatat harga litecoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa di USD255,42 atau sekira Rp3,44 juta jika mengacu kurs Rp13.500 per USD. Pada tanggal 1 Januari, litecoin diperdagangkan pada USD 4,36. Rally to date menandai kenaikannya sebesar 5.758,2%.

Melansir CNBC, situs industri Coinmarketcap.com, yang mengukur rata-rata volume dari semua harga yang dilaporkan pada bursa, mencatat harga litecoin mencapai titik tertinggi sepanjang masa di USD255,42 atau sekira Rp3,44 juta jika mengacu kurs Rp13.500 per USD. Pada tanggal 1 Januari, litecoin diperdagangkan pada USD 4,36. Rally to date menandai kenaikannya sebesar 5.758,2%.

Lantas, apa itu litecoin?

Litecoin adalah kripto yang didirikan oleh Charlie Lee. Ini adalah mata uang digital terbesar keempat berdasarkan kapitalisasi pasar. Kapitalisasi pasarnya mencapai sekira USD14,4 miliar jika dibandingkan dengan USD282,8 miliar untuk bitcoin.

Seperti bitcoin, dia memakai sistem blockchain, yang merupakan buku besar transaksi publik yang tidak dapat dirusak. Saat ini, pasokan litecoin mencapai 84 juta, lebih tinggi dibandingkan bitcoin yang hanya 21 juta. Setidaknya, ada sebanyak 54.268.358 litecoin dan 16.736.137 bitcoin yang beredar di pasar.

WTO Pertimbangkan Usulan Indonesia soal Pajak E-Commerce

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menegaskan World Trade Organization (WTO) akan mempertimbangkan usulan Indonesia mengenai penetapan bea masuk dan pajak atas barang dan jasa yang ditransaksikan dan ditransmisikan secara elektronik (e-commerce). Penegasan ini disampaikan di sela-sela Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-11 di Buenos Aires, Argentina

“Pengenaan bea masuk dan pajak pada transaksi e commerce, seperti yang diterapkan pada bisnis konvensional, akan menciptakan keadilan bagi kedua jenis bisnis ini. Dengan demikian, bisnis konvensional dapat bersaing dengan barang impor yang masuk melalui ranah digital,” ungkap Mendag Enggar.

Kondisi saat ini, harga barang impor dari transaksi e-commerce dapat dijual lebih murah dibanding barang lokal karena tidak membayar bea masuk dan pajak. Di sisi lain, pelaku usaha konvensional dan UKM cukup sulit untuk bersaing dengan bisnis e-commerce karena memiliki kewajiban membayar bea masuk dan pajak, sehingga harganya lebih tinggi.

Jika usulan Indonesia tersebut disetujui, pelaku usaha konvensional terutama UKM akan memiliki kesempatan bersaing dengan barang impor dari segi harga. Skema ini akan menciptakan level persaingan yang setara (level playing field) antara bisnis konvensional dan bisnis digital.

Dalam forum perundingan (working session) di Buenos Aires ini, seruan Indonesia tersebut telah menjadi pertimbangan WTO. Selain itu, Mendag Enggar dan Dirjen WTO Roberto Azevêdo juga telah bertemu untuk membahas hal tersebut.

Dalam pertemuan Mendag dengan Dirjen WTO, dibahas bahwa barang dan jasa yang ditransaksikan dan ditransmisikan secara elektronik akan dipertimbangkan untuk dikenakan bea masuk secara sukarela (voluntary). Pelaksanaan pengenaan itu nantinya dikembalikan ke masingmasing negara. Barang dan jasa yang dapat dikenakan bea masuk dan pajak misalnya buku digital (e-book), musik digital, jasa akuntansi, serta jasa arsitektur. Sementara itu, jasa transmisi elektronik akan tetap dalam moratorium sehingga tidak akan dikenakan bea masuk dan pajak.

“Tanpa pengenaan bea masuk dan pajak, perkembangan e-commerce yang demikian pesat dapat memperlebar jurang pemisah antara bisnis konvensional dan bisnis yang mampu memanfaatkan e-commerce. Dikhawatirkan, pengusaha besar asing yang berbasis e-commerce akan melumpuhkan bisnis konvensional maupun bisnis kecil berbasis e-commerce di suatu negara,” kata Mendag.

Selain itu, WTO diimbau tidak mengabaikan potensi pendapatan negara dari sektor e-commerce. “Pengenaan bea masuk dan pajak dapat menjadi penerimaan negara yang signifikan bagi negara-negara berkembang,” imbuh Mendag.

alah nilai kripto terbesar keempat di dunia yang telah mencapai rekor tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *