Nilai Bitcoin Kembali Anjlok dalam 24 Jam

Nilai bitcoin turun tajam di bawah US$ 11.000 atau sekitar Rp 149,24 juta (asumsi kurs Rp 13.567 per dolar Amerika Serikat) pada Jumat waktu setempat.

Penurunan nilai bitcoin tersebut adalah yang ketiga dalam waktu 24 jam. Hal itu berdasarkan data CoinDesk.com. Akan tetapi, nilai bitcoin kembali naik di kisaran US$ 12.000 atau sekitar Rp 162,81 juta.

Meski demikian, nilai bitcoin jatuh 25 persen dari perdagangan Kamis pagi. Bahkan nilai bitcoin sempat sentuh US$ 20 ribu pada pekan lalu.

Nilai bitcoin anjlok dalam beberapa hari lantaran adanya sentimen negatif. Pada Kamis pekan ini, spin off dari mata uang digital, yaitu bitcoin cash disuspensi otoritas bursa lantaran insider trading.

Selain itu, regulator bursa Amerika Serikat menghentikan perdagangan saham perusahaan yang membawahi transaksi bitcoin.

Di awal pekan ini, pertukaran mata uang virtual di Korea Selatan juga tutup lantaran ada serangan hacker dalam beberapa bulan. Insiden itu menimbulkan pertanyaan mengenai keandalan pasar mata uang digital yang tidak diatur oleh pemerintah dan bank sentral.

Akan tetapi, ada sejumlah pihak berpendapat pergerakan bitcoin hanya sejenak tertekan usai catatkan lonjakan lebih dari 1.000 persen sepanjang 2017.

“Koreksi seperti yang kita saksikan saat ini tidak mengherankan,” ujar Dave Chapman, Direktur Pelaksana Octagon Strategy, seperti dikutip dari laman CNN Money, Sabtu (23/12/2017).

Di tengah gejolak perdagangan pada Jumat pekan ini, CoinBase, salah satu tempat pertukaran mata uang digital menyatakan, pembelian dan penjualan mungkin offline sementara lantaran transaksi yang tinggi.

Nilai bitcoin reli sebagian didorong oleh harapan semakin banyak investor yang akan memulai perdagangannya. Apalagi dua bursa keuangan utama di Amerika Serikat (AS) meluncurkan perdagangan berjangka bitcoin yang akan membantu memberikan pengaruh lebih besar ke investor institusi.

Sebelumnya nilai bitcoin yang tinggi telah membuat khawatir tokoh penting di sektor keuangan dan ekonomi. Mereka memperingatkan kalau lonjakan nilai bitcoin hanya sebuah bubble atau gelembung. Bahkan di antara mereka ada Ketua The Federal Reserve Janet Yellen yang menggambarkan mata uang virtual sangat spekualtif.

Namun, Penasihat Perusahaan Investasi ASR Wealth Advisers Shane Chanel menilai investor dapat mulai mengalihkan fokus ke mata uang virtual selain bitcoin dalam beberapa bulan mendatang. “Saya merasakan kegilaan mata uang virtual,” ujar dia.

Seperti diketahui, bitcoin merupakan mata uang digital yang diciptakan Satosi Nakamoto pada 2009.

Setelah mampu mencetak rekor tertinggi hampir ke level US$ 20 ribu beberapa hari lalu, nilai mata uang digital terbesar dunia bitcoin harus anjlok pada hari ini. Dilaporkan Business Insider, Jumat 22 Desember 2017, nilai bitcoin sempat merosot tajam ke angka US$ 13.300 sebelum naik kembali ke level US$ 15.000.

Jika dihitung, penurunan nilai bitcoin ini mencapai US$ 6.700 atau setara Rp 90 juta. Di level terendah, bitcoin telah kehilangan sepertiga dari nilainya.

Penurunan ini diprediksi terjadi akibat minat masyarakat yang bergeser pada mata uang digital lain yakni Ripple. Cyptocurrency yang baru masuk ke pasar ini mampu mendapat kenaikan nilai mencapai 60 persen.

Tak hanya bitcoin, mata uang digital lain juga ikut terseret turun akibat kenaikan pamor Ripple.

Menurut Alexey Ivanov, CEO dan pendiri Polynom Crypto Capital, pengelola dana investasi mata uang digital yang berbasis di Moskow, lonjakan Ripple tampaknya didorong oleh permintaan yang kuat dari Asia.

“Orang Asia sangat suka pada Ripple,” kata Ivanov dalam sebuah wawancara dengan Forbes.

Volume perdagangan mata uang digital di Korea Selatan dan Hong Kong jauh di atas normal pada hari Kamis, akibat adanya kesepakatan 61 bank di Jepang, yang diselenggarakan oleh SBI Ripple Asia di Tokyo. Bank-bank ini akan meluncurkan platform digital baru menggunakan jaringan Ripple.

“Orang merasa nyaman dengan teknologi di balik Ripple,” kata CEO Polymath Trevor Koverko.

Selain Ripple, mata uang digital lain yang turut meningkat adalah Bitcoin Cash. Peningkatan ini dipicu oleh kerja sama Bitcoin Cash dengan Bitpay, penyedia layanan pembayaran Bitcoin, dan block-chain,platform penyimpanan aset digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *